Algoritma Ephemeris — Dasar Perhitungan
Posisi Matahari dihitung dari seri trigonometri VSOP87 (truncated, ala Jean Meeus, Astronomical Algorithms)
dengan koreksi nutasi dan aberasi. Posisi Bulan dihitung dari seri trigonometri ELP-2000/82 (truncated,
60 suku bujur + 60 suku lintang) dengan koreksi nutasi, paralaks, dan elevasi pengamat. Waktu maghrib memakai tinggi
geometrik Matahari −0,8333°; tinggi hilal mar’i memperhitungkan refraksi atmosfer. Akurasi posisi Bulan ±0,01°,
setara metode Ephemeris Hisab Rukyat Kemenag.
Pemerintah (Kemenag) — Hisab Hakiki + Imkanur Rukyat MABIMS
Sejak 2022, Indonesia bersama Brunei, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) menggunakan kriteria visibilitas hilal baru:
tinggi hilal mar’i ≥ 3° dan elongasi (busur) ≥ 6,4° pada saat matahari terbenam.
Keputusan dievaluasi dari kondisi hilal di markaz terpilih (sama dengan Visualisasi Hilal).
Pengambilan keputusan akhir (untuk Ramadan, Syawal, Dzulhijjah) melalui sidang isbat yang memadukan hasil hisab dan rukyatul hilal dari puluhan titik pantau.
Nahdlatul Ulama — Imkanur Rukyat (Hisab Hakiki Kontemporer + Rukyat)
LF PBNU memakai hisab hakiki kontemporer (falak tahqiqi tadqiqi ashri) dengan kriteria tinggi hilal mar’i ≥ 3° dan
elongasi hakiki ≥ 6,4° (Imkanur Rukyat NU, SK No. 001/SK/PB.01/A.III.01/01/2025). Hisab hanya digunakan untuk
menentukan waktu rukyat; keputusan akhir tetap menunggu hasil rukyatul hilal. Bila rukyat tidak berhasil
mengamati hilal padahal kriteria hisab terpenuhi, maka bulan digenapkan (istikmal) — seperti penetapan 1 Rajab 1447.
Persis — Imkanur Rukyat Astronomis (Kriteria LAPAN)
Persis menerapkan kriteria imkanur rukyat yang dikembangkan LAPAN/BRIN: beda tinggi bulan–matahari (hhilal − hmatahari) ≥ 4°
dan elongasi ≥ 6,4° pada saat matahari terbenam. Dalam aplikasi ini, beda tinggi dihitung sebagai
tinggi mar’i bulan dikurangi tinggi geometrik pusat matahari saat maghrib (−0,8333°), sehingga beda tinggi ≈ tinggi mar’i + 0,83°.
Evaluasi dilakukan di markaz terpilih (sama dengan Visualisasi Hilal).
Muhammadiyah — Wujudul Hilal & KHGT
Hingga tahun 1445 H, Muhammadiyah memakai hisab hakiki wujudul hilal di markaznya (Yogyakarta):
awal bulan dimulai bila pada saat matahari terbenam bulan sudah wujud (tinggi > 0°) di atas ufuk, tanpa syarat
keterlihatan. Mulai 1 Muharram 1446 H (7 Juli 2024) Muhammadiyah resmi menerapkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)
dengan parameter global (satu matlak): ijtimak sebelum 24:00 UTC pada hari ijtimak, dan pada saat matahari terbenam di
suatu tempat di bumi elongasi ≥ 8° serta tinggi hilal ≥ 5°; dengan pengecualian khusus untuk titik di
Benua Amerika bila parameter terpenuhi setelah 24:00 UTC dan ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.
Perhitungan Ijtima' — 0 Hari & +1 Hari
Perhitungan sederhana berbasis waktu ijtimak (aliran ijtima'): 1 bulan baru ditentukan dari posisi hilal
pada saat matahari terbenam, dengan 0 hari ijtima' = rukyat dilakukan pada hari ijtimak itu sendiri
(hari ke-29), dan +1 hari ijtima' = rukyat dilakukan sehari setelah ijtimak. Bila pada saat maghrib hilal
memenuhi kriteria MABIMS (tinggi mar’i ≥ 3° dan elongasi ≥ 6,4°), bulan baru dimulai esok hari; bila tidak,
bulan digenapkan (istikmal) sehingga dimulai sehari berikutnya lagi. Hasil kedua perhitungan ini dapat berbeda
satu hari — terutama ketika ijtimak terjadi menjelang atau sesudah maghrib.